Mengapa Indonesia Keluar Dari Konvensi Bern

mengapa indonesia keluar dari konvensi bern

Mengapa Indonesia keluar dari konvensi bern? Apa alasan Indonesia keluar dari konvensi bern?

Apa Itu Konvensi Bern

Konvensi Bern atau Bern Convention adalah perjanjian internasional tentang perlindungan karya seni dan sastra antara negara-negara berdaulat. Menurut Konvensi ini, hak cipta diberikan secara otomatis kepada mereka yang membuat suatu karya cipta. Dalam arti, mereka tidak harus mendaftarkan karya cipta mereka terlebih dahulu agar bisa mendapatkan hak cipta. Mereka secara otomatis memperoleh hak cipta segera setelah mereka mencetak atau menyimpannya dalam media tertentu. Hak cipta yang diperolehpun tidak hanya berupa hak ekslusif terhadap karya tersebut melainkan juga hak turunannya.

Pada awalnya, perjanjian internasional atau konvensi yang bernama lengkap Berne Convention for the Protection of Literacy and Artistic Work ini hanya ditandantangani oleh 10 negara saja yaitu Belgia, Perancis, Jerman, Haiti, Italia, Liberia, Spanyol, Swiss, Tunisia, dan Kerajaan Inggris pada tanggal 9 September 1886 di Berne, Swiss dan mulai berlaku efektif di negara-negara tersebut sejak tanggal 5 Desember 1887. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah negara yang turut meratifikasi Konvensi Berne pun semakin bertambah. Hingga kini, total ada 177 negara yang telah meratifikasi Konvensi Bern termasuk Indonesia.

Indonesia pertama kali meratifikasi Konvensi Bern saat masih bernama Hindia Belanda. Pemerintah Belanda saat itu mulai memberlakukan Konvensi Bern di wilayah Hindia Belanda tanggal 1 Agustus 1931 dengan Staatsblad 1931 no. 325 yang mengacu pada revisi Konvensi Bern 1928. 27 tahun kemudian, tepatnya tahun 1958, Indonesia menyatakan keluar dari Konvensi Bern. Apa alasan Indonesia keluar dari konvensi bern?

Alasan Mengapa Indonesia Keluar Dari Konvensi Bern

Ada beberapa alasan yang membuat Indonesia pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari Konvensi Bern yaitu sebagai berikut.

  1. Indonesia baru merdeka

Indonesia baru berusia 13 tahun ketika menyatakan diri keluar dari Konvensi Bern. Saat itu, Indonesia layaknya seorang anak kecil yang tengah belajar berdiri dan berjalan di tengah hiruk pikuk pergaulan internasional yang sangat ramai dan timpang. Indonesia juga baru membuka pintu untuk menjalin komunikasi untuk dapat belajar dan bekerja sama dengan negara lain sebagai upaya membangun Indonesia. Dan sumber-sumber pembelajaran yang dibutuhkan untuk membangun Indonesia tersebut sebagian besar berasal dari luar negeri.

Karena itu, Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi setiap upaya untuk menerjemahkan berbagai karya yang berasal dari luar negeri. Dengan keluarnya Indonesia dari Konvensi Bern, Indonesia memiliki keleluasaan untuk menerjemahkan berbagai karya tersebut tanpa perlu khawatir akan adanya tuntutan dari pemegang hak cipta.

  1. Rumitnya memperoleh izin dari pemegang hak cipta

Memperoleh izin dari pemegang hak cipta untuk menerjemahkan karya cipta mereka ke dalam bahasa Indonesia tidaklah mudah. Apalagi jika karya cipta tersebut berasal dari luar negeri. Banyak sekali aturan yang harus diikuti dan dilalui. Hambatan inilah yang coba untuk diatasi yakni dengan cara keluar dari Konvensi Bern.

  1. Mahalnya royalti

Jika Indonesia tidak keluar dari Konvensi Bern, royalti yang harus dibayar oleh Indonesia kepada pemilik hak cipta sangatlah mahal. Namun, dengan keluarnya Indonesia dari Konvensi Bern, Indonesia tidak perlu membayar royalti sepeser pun kepada pemilik hak cipta di luar negeri.

  1. Minimnya karya-karya Indonesia yang dipublikasikan di luar negeri

Saat itu, jumlah karya yang beredar di Indonesia yang harus dilindungi oleh negara sangatlah besar dibandingkan dengan karya-karya anak negeri yang dipublikasikan di luar negeri. Karena itu, akan jauh lebih menguntungkan bagi Indonesia jika keluar dari Konvensi Bern karena Indonesia tidak berkewajiban memberikan perlindungan terhadap berbagai karya cipta yang berasal dari luar negeri.

  1. Belum adanya UU Hak Cipta yang berlaku secara nasional

Alasan terakhir Indonesia keluar dari Konvensi Bern adalah belum adanya UU tentang hak cipta yang berlaku secara nasional. Saat itu, Indonesia sebagai negara yang baru merdeka sama sekali belum memIliki Undang-Undang Hak Cipta. Yang ada hanyalah produk hukum yang dibuat oleh pemerintah Belanda yang notabene merupakan negara yang menjajah Indonesia.

Itulah beberapa alasan Indonesia keluar dari Konvensi Bern. Namun, keluarnya Indonesia dari Konvensi Bern ini hanyalah sementara. Setelah Indonesia mampu membentuk payung hukum tentang hak cipta, Indonesia pun segera meratifikasi kembali Konvensi Bern pada tahun 1997 melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997.

Nah itulah jawaban singkat tentang alasan Indonesia keluar dari konvensi bern / kenapa Indonesia keluar dari konvensi bern. Semoga bisa membantu kalian dalam menjelaskan mengapa Indonesia keluar dari konvensi bern ya!